RAHASIA SEJARAH DUNIA

Label

Selasa, 09 Juli 2013

Peristiwa Pembebasan Kota Mekah (Fathul Makkah)
Peristiwa perang Mu’tah yang terjadi antara tentara Islam dan pasukan Romawi di mata orang-orang Quraish sebagai pertanda kelemahan Islam. Melihat gejala tersebut mereka melakukan provokasi dengan cara membantu sekutu mereka Bani Bakr menyerang sekutu Islam Bani Khaza’ah di sebuah mata air yang dimiliki oleh bani Khaza’ah. Penyerangan yang menewaskan 20 orang anggota Khaza’ah dilaporkan oleh Amr bin Salam kepada Rasulullah saw yang ketika itu berada di Madinah. Mendengar laporan Amr bin Salam, Rasulullah saw berkata, “Kamu pasti akan ditolong, hai Amr bin Salim”

Perbuatan Quraish membantu Bani Bakr menyerang Bani Khaza’ah merupakan sebuah pelanggaran terhadap perjanjian diantara Muslimin dan Quraish. Perjanjian tersebut terjadi pada bulan Dzulqaidah tahun ke-6 Hijriah di sebuah tempat antara Mekkah dan Madinah bernama Hudaibiyah. Garis besar isi perjanjian Hudaibiyah:
“Dengan nama Tuhan. Ini perjanjian antara Muhammad (SAW) dan Suhail bin ‘Amru, perwakilan Quraisy. Tidak ada peperangan dalam jangka waktu sepuluh tahun. Siapapun yang ingin mengikuti Muhammad (SAW), diperbolehkan secara bebas. Dan siapapun yang ingin mengikuti Quraisy, diperbolehkan secara bebas. Seorang pemuda, yang masih berayah atau berpenjaga, jika mengikuti Muhammad (SAW) tanpa izin, maka akan dikembalikan lagi ke ayahnya dan penjaganya. Bila seorang mengikuti Quraisy, maka ia tidak akan dikembalikan. Tahun ini Muhammad (SAW) akan kembali ke Madinah. Tapi tahun depan, mereka dapat masuk ke Mekkah, untuk melakukan tawaf disana selama tiga hari. Selama tiga hari itu, penduduk Quraisy akan mundur ke bukit-bukit. Mereka haruslah tidak bersenjata saat memasuki Mekkah”.

Di Madinah Rasulullah saw menyeru semua sahabat; Muhajirin dan Ansar untuk bersiap melakukan ekspedisi. Seruan Rasulullah bukan hanya dijawab oleh seluruh sahabat Muhajirin dan Ansar juga para penduduk kabilah-kabilah sekitar Madinah. Tercatat sekitar 10.000 orang tergabung dalam pasukan besar Islam yang segera berangkat ke Mekkah dibawah komando nabi Muhammad saw.
Di sebuah tempat bernama Juhfah sekitar 23 km dari Mekkah, Abbas bin Abdul Muthalib paman nabi menemui beliau dan menyatakan bergabung dengan pasukan Islam. Bergabungnya Abbas bin Badul Muthalib diikuti oleh Abu Sofyan bin Haris bin Abdul Muthalib, sepupu nabi dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah. Dengan bergabungnya Bani Hasyim, pasukan Islam pun menjadi tambah kuat.
Sebelum memasuki kota Mekkah, pasukan muslimin berkemah di sebuah daerah bernama Marr Al-Zhahran. Rasulullah memerintahkan agar pasukan muslimin membuat sebuah api unggun yang besar sehingga jika dilihat penduduk Mekkah akan menyebarkan rasa takut di hati mereka. Keberadaan api unggun besar tersebut ternyata langsung memancing keingin-tahuan Abu Sofyan yang sedang melakukan pengintaian terhadap tentara Islam. Abu Sofyan dengan didampingi oleh Abbas bin Abdul Muthalib menghadap nabi kemudian menyatakan syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad saw adalah utusan Allah.
Pembebasan kota Mekkah terjadi pada tanggal 20 Ramadhan tahun 8 Hijriah. Rasulullah saw berwasiat kepada pasukannya agar tidak melakukan pertempuran dan jangan sampai meneteskan darah kecuali sangat terpaksa. Tentara Islam kemudian dibagi menjadi 4 devisi, divisi pertama dipimpin oleh Zubair bin Al-Awwam dengan tugas memasuki Mekkah dari sebelah Utara, divisi kedua dipimpin oleh Khalid bin Walid dengan tugas memasuki Mekkah dari Selatan, divisi ketiga dipimpin oleh Sa’d bin Ubadah yang kemudian diganti oleh putranya Qais bin Sa’d dengan tugas memasuki kota Mekkah dari arah Barat dan divisi terakhir dibawah pimpinan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah yang bersama-sama Rasulullah memasuki kota Mekkah dari arah Barat Laut di kaki bukit Hind.
Seluruh pasukan muslimin berhasil memasuki kota Mekkah tanpa menumpahkan darah kecuali pasukan Khalid bin Walid yang mendapat perlawanan dari sekelompok pemuda Quraish yang dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahl. Pertempuran kecil tersebut mengakibatkan 2 orang tentara Islam syahid.

Pengampunan Umum bagi Penduduk Mekkah
Rombongan Rasulullah dari arah Bukit Hind memasuki Mekkah dengan tanpa meneteskan darah. Kemudian disusul oleh pasukan-pasukan muslim yang masuk dari Arah berbeda. Bersama-sama mereka mengumandangkan takbir, tasbih dan tahmid menuju baitullah, Ka’bah yang telah lama ditinggalkan oleh umat yang menyembah Allah. Rasulullah saw bersama pengikutnya bersama-sama membersihkan Ka’bah dari segala macam berhala. Dengan tongkat di tangan, Rasulullah menunjuk ke arah berhala-berhala seraya membaca ayat Al-Qur’an;
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
“Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS Al-Isra 81)
Setelah seluruh berhala dan gambar-gambar dibinasakan dari Ka’bah, Rasulullah menyeru sahabat Billal bin Rabbah untuk mengumandangkan Azan dari atas Ka’bah. Kemudian muslimin dipimpin oleh Rasulullah selaku imam melaksanakan shalat berjamaah.
Sementara muslimin merasakan rasa haru dalam kalbu setelah melaksanakan shalat berjamaah di Masjidil Haram, penduduk Mekkah berkumpul di depan Ka’bah dengan tertunduk lesu menyesali segala perbuatan jahat mereka terhadap Rasulullah dan pengikutnya. Mereka pasrah jika Rasulullah saw menuntut balas atas segala perbuatan keji yang telah mereka lakukan.
Rasulullah saw dengan penuh wibawa berdiri di depan Ka’bah menghadap ke penduduk Mekkah. Beliau saw kemudian berkata:
“Menurut dugaan kalian, apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?
“Kami berharap yang baik-baik wahai saudara yang mulia dan putra saudara yang mulia.” Jawab penduduk Mekkah
“Tidak ada hukuman sama sekali atas kalian. Hari ini Allah telah mengampuni kalian.”
Demikianlah akhlaq Rasulullah yang bersumber dari Al-Qur’an, memaafkan orang-orang yang telah berbuat dzolim kepadanya dan pengikutnya. Dengan pengampunan tersebut berbondong-bondong penduduk Mekkah menyatakan masuk Islam dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasulullah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar